Loading

Budidaya Padi Sistem Tabela

Tanam padi sistem tabela ( Tabur Benih Langsung )memang memberikan beberapa keunggulan atau kelebihan dari cara tanam konvensional karena lebih efisien, namun disisi lain ternyata kurang cocok bila dilakukan saat musim penghujan. Bahkan disinyalir turut menumbuhkan biji gulma untuk tumbuh lebih awal sehingga mendorong gulma tumbuh cepat. Maka pemilihan herbisida yang selektif dan efektif mutlak dibutuhkan untuk mengendalikan pertumbuhan gulma tersebut.

Tanaman padi (Oriza sativa) adalah salah satu jenis serealia yang umumnya dibudidayakan melalui sistem persemaian terlebih dahulu. Baru setelah bibit tumbuh sampai berumur + 3 minggu dilakukan pemindahan tanaman bibit ke lapangan yang telah dipersiapkan sebelumnya yang dikenal dengan istilah transplanting. Cara ini merupakan suatu cara yang umum digunakan oleh petani padi di seluruh Indonesia.
Namun, ada beberapa kelemahan yang dimiliki dari sistem transplanting tersebut, diantaranya : (a) pada saat bibit dicabut dari tempat persemaian maka bibit akan mengalami kerusakan pada sistem perakarannya.
Monochoria vaginalis, gulma berdaun lebar yang sering mengganggu pertanaman padi

Keadaan ini akan mempengaruhi proses adaptasi tanaman, dimana bibit padi tersebut akan berhenti mengabsorbsi air, sedangkan di lain pihak proses transpirasinya tetap berlangsung. Bila keadaan ini berlangsung dalam interval waktu yang agak panjang maka bibit akan mengalami kekurangan air, terjadi penurunan tekanan turgor dari guard cell (sel penjaga), stomata tertutup, difusi CO2 tertekan dan pada akhirnya terhentinya proses fotosintesis. (b) Pada saat bibit tanaman padi dicabut dari persemaian akan terjadi pelukaan pada sistem perakarannya, hal ini mempengaruhi daya tahan tanaman dimana luka yang ada akan menyebabkan bibit penyakit dapat masuk ke dalam tanaman. (c) Pada saat bibit tanaman padi dicabut dari persemaian dan dipindahkan ke sawah, akan terjadi proses stagnasi dimana pertumbuhan bibit tanaman akan terhenti sementara sampai dapat beradaptasi dengan lingkungan barunya, (d) sistem budidaya melalui persemaian lebih cocok untuk musim penghujan karena proses transpirasi (penguapan) dapat ditekan lajunya sehingga bibit padi dapat terhindar dari proses kelayuan dan terakhir (e) sistem budidaya melalui persemaian akan membutuhkan tenaga kerja lebih banyak dimana untuk luasan satu hektar akan membutuhkan kurang lebih 10 orang tenaga kerja transplanting dan membutuhkan waktu + 8 jam dengan besar biaya + Rp. 250.000,- (standart di Kabupaten Sindrap, Sulawesi Selatan).

Untuk mengatasi keadaan ini perlu dilakukan alternatif teknik budidaya lain misalnya tekhnologi budidaya tanaman padi dengan menggunakan sistem tabela atau tabur benih langsung. Pada sistem tabela ini, sebelum benih ditabur ke lapangan terlebih dahulu di kecambahkan di dalam karung yang basah selama 2 hari sampai calon akarnya kelihatan, kemudian barulah dimasukkan langsung ke dalam lubang-lubang yang dibuat terlebih dahulu menggunakan kayu sederhana (tugal) yang berfungsi sebagai alat pembuat lubang dan sekaligus untuk mengatur jarak tanam. Sebelumnya lahan perlu diairi sampak agak basah tetapi tidak sampai menggenang atau becek sehingga mempermudah pembuatan lubang-lubang tanam. Benih hasil peraman yang telah kelihatan calon akarnya dimasukkan ke dalam lubang dengan menggunakan telunjuk jari tengah dan ibu jari + 20 – 25 benih ke dalam satu lubang. Perlakuan ini dengan estimasi bahwa satu rumpun padi yang optimal terdiri dari 20 – 25 anakan. Jarak tanam yang baik adalah + 25 x 25 cm dengan kebutuhan benih + 60 kg/ha.
Benih padi yang sudah muncul titik tumbuhnya dimasukkan ke dalam lubang dengan menggunakan jari telunjuk

Di Sulawesi Selatan, sistem tabela ini sudah mulai memasyarakat dan banyak digunakan oleh petani padi sawah terutama di Kabupaten Sindrap, Pinrang dan Bone. Adapun beberapa keuntungan budidaya padi dengan sistem tabela diantaranya : (a) sistem tabela memastikan jarak tanam lebih tepat dan teratur sehingga produksi yang diperoleh petani lebih banyak 500 – 1000 kg gabah kering per hektar bila dibandingkan dengan sistem persemaian. Konsekuensi yang diperoleh dari jarak tanam yang teratur akan mengurangi kompetisi untuk mendapatkan faktor-faktor produksi antar tanaman. Yang terpenting adalah bahwa jarak tanam yang tepat dan teratur akan menyebabkan Leaf Area Indeks (LAI) yang optimum karena semua lapisan daun sempurna sehingga proses fotosintesis tanaman dapat berlangsung secara optimal. Keadaan inilah yang dapat menunjang kenaikan produksi lebih tinggi pada sistem budidaya padi dengan menabur benih langsung tanpa melewati proses persemaian. (b) sistem tabela menyebabkan tanaman terhindar dari proses transpirasi yang berlebihan yang dapat menyebabkan kelayuan saat kekurangan air , (c) tanaman terhindar dari stagnasi (d) tanaman terhindar dari proses penggabungan akar yang biasa terjadi saat transplanting sehingga banyak akar yang rusak dan putus dan (e) Dengan sistem tabela kebutuhan tenaga kerja penanam untuk luasan 1 hektar adalah lima orang tenaga kerja dengan waktu + 4 jam sehingga besar biaya akan jauh lebih murah ( + Rp. 125.000) jika dibandingkan dengan budidaya sistem persemaian. Dengan sistem tabela dapat menghasilkan 6 – 6,5 ton gabah, sedangkan melalui sistem persemaian konvensional menghasilkan 5 – 5,5 ton gabah.

Namun disamping memiliki kelebihan-kelebihan tersebut, sistem budidaya padi secara tabela ini juga memiliki beberapa kelemahan/kekurangan diantaranya (a) Sistem tabela hanya dapat digunakan pada musim kemarau. Bila digunakan pada saat musim penghujan benih yang dimasukkan ke dalam lubang akan keluar dan tersebar kemana-mana menyebabkan jarak tanam menjadi tidak teratur, (b) Dengan sistem tabela, karena air dimasukkan lebih awal pada saat akan membuat lubang, dapat menyebabkan biji-biji gulma berkecambah dan tumbuh lebih awal.
Dari beberapa jenis gulma yang tumbuh ternyata ada dua jenis gulma yang sering menyulitkan para petani padi, yaitu :
1. Echinocloa crussgalli
Gulma ini seringkali dijumpai pada tanaman padi. Biasanya disetiap daerah memiliki nama yang berlainan. Orang Sunda menyebutnya sebagai rumput jajagoan, sedangkan istilah Orang Sulawesi seringkali disebut sari beteng.
Jajagoan, salah satu gulma
yang sering mengganggu pertanaman padi

Jenis gulma ini adalah gulma berdaun sempit dan sulit dibedakan dari tanaman utama yaitu padi karena memiliki penampakkan yang hampir sama. Selain memiliki ciri yang sama, jajagoan ini juga biasanya tumbuh menjadi satu dengan anakan padi dalam satu rumpun. Perbedaan mencolok dari gulma ini dapat dilihat pada saat tanaman jajagoan mengalami pembungaan. Pada saat pembungaan inilah biasanya kompetisi dalam memperebutkan unsur hara yang ada dalam tanah berlangsung sehingga dapat mengakibatkan penurunan produksi padi berkisar antara 15 – 20 %. Karena sifatnya yang mirip dan menyatu dengan rumpun padi itulah pengendalian gulma harus diupayakan sedini mungkin dan memilih herbisida yang selektif, efektif dan bersifat pra tumbuh.
2. Monochoria vaginalis
Berbeda dengan jenis jajagoan, gulma ini merupakan jenis tanaman yang berdaun lebar. Orang seringkali menyebutnya dengan eceng gondok. Jenis gulma ini biasanya berkembang biak sangat cepat terutama bila hujan deras. Keadaan ini menyebabkan petani semakin mengalami kesulitan.

Pengendalian
Keberadaan gulma yang sangat mengganggu produktivitas tersebut kini selain dapat dikendalikan secara mekanis, juga dapat dilakukan secara kimia. Penggunaan herbisida merupakan langkah pengendalian gulma secara kimia namun relatif aman baik bagi pengguna maupun bagi tanaman utama itu sendiri. Dengan banyaknya jenis herbisida yang beredar di pasaran tentulah hal ini cukup membingungkan karena masing-masing merk menawarkan berbagai keunggulannya. Namun demikian, seperti yang dijelaskan sebelumnya pemilihan herbisida ini hendaknya sangat hati-hati dan selektif. Efektivitas suatu herbisida tergantung pada jenis gulma dan bahan aktif yang dikandung herbisida tersebut. Perlu diketahui bahwa tidak semua jenis herbisida mampu memberantas semua jenis gulma karena pada bahan aktif tertentu hanya efektif/manjur pada karakteristik gulma tertentu saja. Tidak terlepas dari bagaimana sifat/karakteristik suatu bahan aktif dalam efektivitasnya membasmi gulma, maka di beberapa tempat di Sulawesi Selatan seperti di Kab. Sindrap, Pinrang dan Bone khususnya pada budidaya padi yang menggunakan sistem tabela, telah mengadakan beberapa percobaan baik yang dilakukan sendiri oleh petani maupun bersama-sama. Hasilnya memuaskan dimana dari beberapa herbisida yang dicoba, ternyata hanya ada dua jenis yang paling unggul dan terbukti efektif dalam membasmi gulma jenis jajagoan maupun eceng gondok. Herbisida yang dimaksud adalah Billy 20WP dan Queen 25WP yang didistribusikan oleh PT. Tanindo Subur Prima-Surabaya dengan merk dagang Cap Kapal Terbang. Keunggulan dari dua jenis herbisida ini ternyata dari sifatnya selektiif pada padi dimana bahan aktif yang dimiliki baik oleh Billy 20WP maupun Queen 25WP tersebut efektif dalam membasmi gulma namun tidak mematikan tanaman padi.
Herbisida Billy 20WP merupakan herbisida sistemik yang berbahan aktif Etil pirazosulfuron 20 %. Herbisida ini dapat digunakan pada saat pra tumbuh sampai awal purna tumbuh, disamping selektif juga mampu mengendalikan gulma berdaun sempit maupun berdaun lebar. Billy 20WP ini berbentuk tepung yang berwarna abu-abu. Sifat selektivitas yang dimilikinya ini bila ditinjau secara biokimia erat kaitannya dengan keberadaan bahan aktif etil pirazosulfuron dimana senyawa yang dihasilkannya akan memutus cabang asam amino pada tanaman gulma yang lama-kelamaan akan menyebabkan kematian, namun tidak berpengaruh pada tanaman padi. Hal ini disebabkan bila kontak dengan tanaman padi maka senyawa tersebut akan membentuk senyawa hidroksil yang tidak beracun sehingga tetap aman bagi padi. Berdasarkan pengalaman para petani yang ada, maka agar didapatkan hasil yang optimal penggunaan dosis untuk memberantas gulma jajagoan adalah sekitar 5 gram/2 tangki air (28 liter) per hektar. Sedangkan untuk memberantas gulma eceng gondok dapat digunakan dosis 5 gram/1 tangki air (14 liter) per hektar.
Herbisida Queen 25WP tidak berbeda jauh dengan “kerabat”-nya yaitu Billy 20WP. Baik dilihat dari segi manfaat maupun keunggulan yang dimiliki baik Billy 20WP maupun Queen 25WP hampir sama. Hanya saja herbisida Queen 25WP ini mengandung bahan aktif Kuinklorak sebesar 25 %. Queen 25WP ini merupakan herbisida sistemik yang dapat digunakan pada pra tumbuh dan awal purna tumbuh berbentuk tepung dan berwarna krem yang dapat disuspensikan. Herbisida Queen ini lebih cocok digunakan pada gulma berdaun sempit seperti jajagoan. Dosis yang dapat digunakan untuk memberantas gulma ini adalah + 50 gram/2 tangki air untuk luasan satu hektar tanaman padi.
Dari hasil percobaan dan pengalaman petani setempat, ternyata bila kita menggunakan herbisida berbahan aktif metil metsulfuron maupun 2,4-D pada budidaya padi dengan sistem tabela ini akan menyebabkan keracunan pada tanaman padi yang dicirikan dengan daun berwarna kemerahan dan akhirnya berwarna coklat kehitaman seperti terbakar. Untuk itu maka penggunaan herbisida berbahan aktif metil metsulfuron maupun 2,4 –D ini baru dapat digunakan pada saat tanaman padi berumur + 18 hari.
Berdasarkan uraian di atas maka pengambilan keputusan untuk pengendalian gulma secara kimia harus dibuat sebijak mungkin dan hati-hati dengan mempertimbangkan efektivitas dan biayanya. Sehingga pemilihan herbisida yang benar-benar tepat yaitu efektif dan selektif juga aman bagi tanaman padi mutlak dipertimbangkan. Dengan keunggulan yang dimiliki , maka baik Billy 20WP maupun Queen 25 WP merupakan alternatif herbisida yang tepat dan efektif dalam mengendalikan sekaligus mencegah adanya tanaman gulma. Penggunaan herbisida pada sistem tabela dapat memberantas gulma sedini mungkin tanpa merusak tanaman padi itu sendiri. Sehingga hal itu tidak dapat memberikan kesempatan kepada gulma untuk berkompetisi dengan tanaman padi dalam mendapatkan unsur hara, air, cahaya, maupun CO2 untuk perkembangan dan pertumbuhannya.
Sumber

1 komentar: